Tausiah

oleh : Drs Suherman, M.Si

Berbagi adalah Fitrah

Administrator | Senin, 18 Agustus 2014 - 10:54:44 WIB | dibaca: 79460 pembaca

gambar ilustrasi

Manusia tidak bisa memberi Apa yang ada pada dirinya hanyalah sebuah titipan atau amanah. Apa yang kita berikan kepada orang lain itu merupakan investasi yang akan kita peroleh kembali berupa keuntungan yang lain  berupa rezeki dengan berbagai macam bentuknya. Seperti hukum kekekalan energi yang berbunyi bahwa energi tidak bisa dimusnahkan, ia hanya bisa diubah bentuk,  begitu pun amal atau pemberian. Sesuatu yang kita berikan tidak hilang, hanya berpindah tangan.

Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendirian, dia harus bergaul dengan yang lain atau bermasyarakat dan di sana mau tidak mau ada proses berbagai dengan sesama, berbagai merupakan hukum besi kehidupan atau yang disebut dengan sunatullah. Sesungguhnya Apa yang kita berikan seperti kita berteriak di ruang hampa atau di lembah bukit, maka yang akan kita dengar adalah berupa gema kita sendiri yang memantul melalui dinding. Tidak ada individu maupun organisasi yang dapat bertahan  atau menjaga eksistensinya tanpa berbagai dengan orang lain. Bagi individu proses memberi ini ada yang disebut dengan zakat, infak sodaqoh, dan lain-lain. 

Sedangkan dalam organisasi atau perusahaan disebut dengan corporate social responsibily (CSR). Semakin besar CSR yang diberikan maka akan semakin berkembang perusahaan tersebut.Berkembangnya perusahaan ditentukan  oleh  dua hal yaitu laba dan keamanan atau kenyamanan. Salah satu manfaat dari CSR adalah akan terjaminnya keamanan dari perusahaan tersebut. Masyarakat akan ikut menikmati dari perusahaan tersebut alih-alih merorong perusahaan maka masyarakat akan ikut melindungi keberlangsungan perusahaan tersebut.  Begitu pun dalam skala individu apabaila seseorang banyak berbagi otomatis dia akan banyak disenangi oleh masyarakat. CSR adalah “belanja” perusahaan untuk membeli keamanan dan ketentraman.

Masalah sosial seperti kemiskinan, pengangguran, kejahatan, dan lain-lain pada hakikatnya itu semua diakibatkan karena proses berbagi yang tidak berjalan dalam masyarakat.  Menahan harta yang merupakan hak orang lain sama dengan mengganggu proses keseimbangan sosial. Orang-orang yang menciptakan masalah sosial bukanlah orang-orang miskin akan tetapi orang-orang kaya yang tidak mau berbagi. “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka”. (Ali Imran [3]: 180).

Setelah kita sebulan penuh berpuasa, diharapkan ada sebuah proses pensucian diri kita dari belenggu materi yang selama ini mengikat   erat keberadaan diri kita.  Maka puasa adalah sebuah proses untuk mengambil jarak dengan dunia materi. Kita kembali kepada fitrah diri kita yaitu seorang manusia yang tidak memiliki apa-apa.  Pada saat lahir kita adalah manusia yang telanjang tidak memiliki dan tidak bisa apa-apa. Sekarang di antara kita ada yang memiliki kelebihan harta dan ilmu. Mungkin ada yang mengatakan bahwa itu semua adalah hasil dari usaha atau kerja kerasnya.

Akan tetapi kita juga sering menyaksikan orang yang bekerja keras akan tetapi tidak seberuntung orang yang berpunya. Banyak orang-orang miskin yang pekerja keras, banyak orang-orang lemah yang rajin. Akan tetapi hasil akhirnya berbeda. Tidak terbayangkan bagaimana apabila seluruh penduduk di muka bumi ini kaya semuanya atau peintar seluruhnya. Maka pintu pahala akan banyak tertutup.

Saat dikaruniai Allah kekayaan lebih, sesungguhnya merupakan kesempatan seorang untuk berbagi dengan sesama. Itulah saat yang tepat menanam kebaikan. Tetapi hawa nafsu dan syetan membisikkan manusia untuk lebih mementingkan diri sendiri dan cinta dunia. Mereka tidak peduli terhadap kesulitan hidup fakir miskin, yatim piatu, dan dhuafa. Mereka menganggap sikap bakhilnya itu akan membuatnya lebih baik. Padahal pada kenyataanya itu hanya akan menyempitkan jiwanya sendiri saja dan berakibat buruk baginya. Ia telah diperbudak oleh hartanya dan dikucilkan masyarakatnya.

Shaum adalah sebuah latihan melepaskan jiwa dari belenggu dunia. Ingatlah sesungguhnya harta dan dunia ini adalah amanah- Nya agar kita berbagi dengan sesama. Janganlah kita menyumbat aliran rahmat-Nya dengan sikap tak mau berbagi. Bakhil hanya akan membelenggu diri. Apalagi saat roda kehidupan terhenti alias maut menjemput, harta yang telah menjerat jiwanya di dunia itu juga akan menjerat pula di akhirat. “Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Ali Imran [3]: 180)










Komentar Via Website : 2026
http://viagrabs.com/
17 April 2018 - 12:20:23 WIB
viagra in thailand 2012
[url=http://viagrabs.com/]buy viagra[/url]
viagra taken under the tongue
<a href="http://viagrabs.com/">viagra</a>
can you take viagra with blood pressure
http://viagrabs.com/
17 April 2018 - 19:22:42 WIB
do you need prescription to buy viagra in uk
[url=http://viagrabs.com/]viagra[/url]
key ingredient in viagra
<a href="http://viagrabs.com/">generic viagra</a>
should i take viagra daily


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)